Lalu 2 pria yang sakit keras itu setiap hari saling bercakap - cakap selama beberapa jam, mereka membicarakan istri, keluarga, rumah, dan tempat - tempat yang dulu pernah mereka kunjungi. Dan setiap sore, jika pria ke 3 itu diperbolehkan duduk, ia slalu menceritakan keadaan diluar sana kepada 2 pria tersebut. Selama beberapa minggu pria ke 3 slalu begitu, ia slalu menceritakan keindahan, keramaian, dan kesanangan yang ada diluar sana. suatu pagi, perawat datang untuk memeriksa keadaan kondisi para pasien, dan iya mendapati ternyata pria ke 3 itu telah meninggal dunia dengan tenang diDalam tidurnya. Perawat itu sedih, lalu memanggil perawat lainnya untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria disamping meminta agar ia dipindahkan ke tempat tidur dekat jendela itu. dan perawat itu bersedia untuk memindahkannya. Ketika semuanya selesai, perawat itu meninggalkan pria tadi di kamar barunya.
Lalu pria itu pun memaksakan dirinya untuk bangun, ia ingin sekali melihat keadaan dunia luar melalui jendela itu. Akhirnya ia pun berada di posisi duduk, dan ia menoleh ke jendela itu. dan apa yang dilihatnya??? Ternyata jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK kosong.
Ia berseru - seru memanggil perawat, dan menanyakan apa yang membuat teman sekamarnya yang sudah wafat tadi bercerita seolah - olah meliha pemandangan yang luar biasa indah dari balik jendela itu. Perawat itu menjawab, sesungguhnya pria tadi adalah seseorang yang buta, bahkan untuk melihat tembok saja ia tidak bisa, barang kali ia memberimu semangat hidup jawab perawat itu.
Kita percaya, setiap kata slalu bermaknya bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata adalah layaknya pemicu yang mampu menelisik sisi terdalam manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata - kata akan selalu memacu dan memicu kita untuk menggerakan setiap anggota tubuh kita dalam berfikir dan bertindak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar